Pengalaman Ziarah Wali Songo

Mau berbagi sedikit kisah perjalanan saya dan rombongan Ziarah Wali Songo beberapa waktu lalu. Rombongan kami berangkat tanggal 24 Januari 2013, bertepatan dengan hari libur nasional, untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dari Bandung, tepat pukul 06:00, rombongan kami bertolak menuju Surabaya menggunakan Merpati dan Lion Air. Alhamdulillah penerbangan lancar, setelah kurang lebih 1 jam di udara, rombongan tiba di Bandara Juanda Surabaya.

Lalu rombongan terbagi dalam 2 bis untuk memulai rangkaian ziarah dengan mengunjungi :

  1. Makam Sunan Ampel (Ali Rahmatullah) di Surabaya 
  2. Makam Sunan Giri (Raden Paku/Joko Samudra) di Gresik
  3. Makam Syech Maulana Malik Ibrahim di Gresik
  4. Makam Sunan Drajad (Raden Qosim) di Lamongan 
  5. Makam Sunan Bonang (Syaikh Maulana Makhdum Ibrahim) di Tuban
  6. Makam Sunan Muria (Raden Umar Said) di Gunung Muria, Kudus
  7. Makam Sunan Kudus (Ja’far Shodiq) di Kudus
  8. Makam Sunan Kalijaga (Raden Said) di Demak
  9. Masjid Agung Demak
  10. Makam Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) di Cirebon

Dan ternyata rombongan kami tidak sendirian, karena masih dalam suasana Maulid Nabi Muhammad SAW, tempat-tempat ziarah penuh sesak dengan para penziarah dari berbagai pelosok daerah.

* * *

Para Sunan yang tergabung dalam Wali Songo ini, saya kenal hanya melalui buku pelajaran saat masa kecil. Tidak disangka, akhirnya saya dapat mengunjungi tempat peristirahatan mereka satu persatu. Secara pribadi, perjalanan ziarah ini adalah ucapan terimakasih kepada para Sunan, sekaligus mendoakan, napak tilas serta sedikit melihat & merasakan jejak-jejak perjuangan para Sunan dalam mengenalkan Agama Islam di tanah Jawa.

Misalnya saat berziarah ke Makam Sunan Muria yang berada di kawasan puncak Gunung Muria. Untuk menuju puncak, kita harus melalui rangkaian anak tangga kurang lebih adalah 500m. Untuk menaiki satu per satu anak tangga ini dibutuhkan kesabaran yang tinggi, dan tentu saja stamina dan fisik kuat. Dari medan tempat berdakwahnya saja, saya bisa membayangkan betapa beratnya tantangan Sunan Muria dalam mengenalkan ajaran Islam.

Tangga Menuju Makam Sunan Muria Permulaan Anak tangga menuju Makam Sunan Muria yang terletak di Kawasan Puncak Gunung Muria

Atau saat berkunjung ke Makam Sunan Kudus, Masjid yang dibangun oleh Sunan Kudus mirip dengan bangunan candi. Masjid ini dilengkapi dengan Menara Kudus yang antik. Seperti para Sunan yang lain, Sunan Kudus mengenalkan Islam dengan tetap memperhatikan kultur & kebiasaan setempat.

Menara Sunan Kudus
Jika melewati Gerbang Masjid, maka para penziarah akan menemukan pintu masuk masjid yang arsitekturnya juga bernuansa candi. Pintu masuk ini tetap dipertahankan, digabung dengan bangunan masjid dengan arsitektur Islam.

Saat di Demak, tepatnya di Masjid Agung Demak. Kami membayangkan, dahulu para Sunan berkumpul untuk membahas agama, politik, strategi dan lain-lain. Di sini pula kami menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Raden Patah pemimpin Kerajaan Demak.

* * *

Rute Ziarah : Bandung – Surabaya – Gresik – Lamongan – Tuban – Kudus – Demak – Cirebon – Bandung

Bagi saya, secara keseluruhan perjalanan Ziarah Wali Songo selama 3 hari ini sangatlah berkesan, karena bukan sekedar perjalanan, melainkan perjalanan religi yang penuh makna hikmah dan historis.

Masih banyak pengalaman lebih detail yang saya ingin ceritakan, namun sepertinya terlalu panjang kalau di-posting di blog ini. Mungkin bagi yang ingin melakukan perjalanan ziarah serupa, dengan senang hati saya akan membagi itenary, tips, dll.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip tembang karya Sunan Bonang, sekali lagi sebagai ucapan terimakasih kepada Walisongo dan para Sunan lainnya.

Tombo Ati iku limo perkorone
Kaping pisan moco Kuran lan maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang soleh kumpulono
Kaping papat wetengiro ingkang luwe
Kaping limo zikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo iso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani

Advertisements
This entry was posted in Soul, Travelling. Bookmark the permalink.

5 Responses to Pengalaman Ziarah Wali Songo

  1. ko ga mampir ke Banten? padahal di banten jg banyak makam yg bisa di ziarahi. 🙂

  2. Karena hanya 3 hari, hanya sempat ke Wali Songo. Ada keinginan, di lain waktu ziarah ke tempat lain, seperti Banten. Ada rekomendasi ?

  3. Pingback: Backpacking ke Kuala Lumpur, Lanjut ke Singapura via Jalan Darat | La Nostra Scrittura

  4. yadi nurhadi says:

    alhamdulillah baru minggu kemaren pulang ziarah wisata religi wali songo beserta jamaah yg lain’a…..
    mudah2an allah swt memberi panjang umur,,, supaya tahun depan bisa berangkat ziarah lagi………..Aamiin…..

  5. Walisongo Adalah Utusan Khalifah Utsmaniyah

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarkatuh
    Sri Sultan HB X Ungkap Hubungan Khilafah Utsmaniyah dengan Tanah Jawa :

    Ibnu Bathutah : “Walisongo Datang ke Indonesia atas Perintah Sultan Muhammad I”
    [101dunia] – Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Kondisi ini tidak lepas dari peranan para ulama yang disebut sebagai Walisongo (sembilan wali). Sedikit orang yang mengetahui siapa sebenarnya Walisongo dan berasal dari mana kah mereka.

    Sebuah kitab bernama Kanzul Hum karya Ibnu Bathutah yang sekarang disimpan di museum Istana Turki di Istanbul menyebutkan bahwa Walisongo datang ke Indonesia atas perintah Sultan Muhammad I untuk menyebarkan agama Islam.

    Pada tahun 1404 M (808 H) Sultan mengirim surat kepada para pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah dengan maksud untuk meminta sejumlah ulama agar diberangkatkan ke pulau Jawa. Para ulama yang dimaksud adalah mereka yang memiliki kemampuan dalam segala bidang agar nantinya akan memudahkan proses penyebaran Islam.

    Dengan keterangan di dalam kitab tersebut kita menjadi tahu bahwa sebenarnya Walisongo adalah para ulama yang sengaja diutus Sultan pada masa kekhalifahan Utsmani. Saat itu terdapat 6 angkatan keberangkatan yang masing-masing terdiri dari sembilan orang. Jadi jumlah sebenarnya bukan sembilan ulama tetapi jauh lebih banyak.

    Angkatan satu dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim asal Turki yang berangkat pada tahun 1400an. Beliau adalah ulama yang memiliki keahlian dalam bidang politik dan sistem pengairan. Dengan berbekal keahlian tersebut maka beliau menjadi peletak dasar berdirinya kesultanan di pulau Jawa dan juga berhasil memajukan pertanian di pulau ini.

    Angkatan pertama ini juga terdiri dari dua orang ulama yang berasal dari Palestina yaitu Maulana Hasanuddin dan Sultan Aliudin. Dua orang ulama ini berdakwah di Banten dan mendirikan kesultanan Banten. Maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat Banten yang merupakan keturunan dari Sultan Hasanuddin memiliki hubungan secara biologis dengan rakyat Palestina.

    Selain itu ada Syekh Ja’far Shadiq yang diberi julukan sebagai Sunan Kudus dan Syarif Hidayatullah yang disebut sebagai Sunan Gunung Jati. Kedua ulama ini juga berasal dari Palestina. Dalam proses dakwah beliau, Sunan Kudus membangun sebuah kota di Jawa Tengah yang kemudian disebut kota Kudus. Nama kota tersebut berasal dari kata Al Quds (Jerusalem).

    Masyarakat Nusantara pertama kali mengenal Islam pada abad 7 Masehi atau abad 1 Hijriah. Pengaruh Islam sangat besar pada situasi politik saat itu. Dengan semakin berkembangnya ajaran Islam di Nusantara ketika itu, maka bermunculan lah berbagai kerajaan dan kesultanan Islam seperti Kesultanan Peureulak, Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang, Ternate, Tidore, Bacan (Maluku), Pontianak, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Kutai, Sambas, Banjar, Pasir, dan Sintang.

    Sedangkan kesultanan yang berdiri di Jawa di antaranya adalah Demak, Pajang, Cirebon, dan Banten. Di Sulawesi, syariat Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Di Daerah Nusa Tenggara hukum Islam diterapkan dalam kesultanan Bima.

    Perjalanan Dakwah Wali Songo
    Sebelum tiba di tanah Jawa, pada umumnya para ulama ini singgah terlebih dahulu di Pasai. Penguasa Samudera Pasai yang hidup pada tahun 1349-1406 Masehi, Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah adalah orang yang mengantarkan Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa.

    Sejak tahun 1463 Masehi semakin banyak ulama Jawa yang menggantikan ulama yang telah wafat atau berhijrah ke tempat lain. Para ulama pengganti tersebut di antaranya:

    – Raden Paku (Sunan Giri)
    Beliau adalah putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu yang merupakan putri dari Prabu Menak Sembuyu Raja Blambangan.

    – Raden Said (Sunan Kalijaga)
    Beliau adalah putra Bupati Tuban, Adipati Wilatikta atau disebut juga Raden Sahur. Berdasarkan sejarah masyarakat Cirebon, julukan Kalijaga berasal dari nama salah satu desa di Cirebon bernama Kalijaga. Saat Raden Said bermukim di desa tersebut, beliau sering berdiam diri dengan berendam di kali (jaga kali).

    – Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)
    Beliau adalah putra dari Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila. Nama Bonang berasal dari nama sebuah desa di Rembang.

    – Raden Qasim Dua (Sunan Drajad)
    Seperti halnya Sunan Bonang, beliau juga adalah putra Sunan Ampel. Dengan demikian Sunan Drajad adalah saudara dari Sunan Bonang.

    Para ulama diberi gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian dan berarti Tuanku, maka dapat disimpulkan bahwa saat itu dakwah Islam telah berjalan dengan baik dan mendapat kehormatan dari kalangan pembesar Kerajaan Majapahit.

    Para Ulama Penyebar Agama Islam Di Nusantara
    Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H. Terdiri dari:

    1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
    2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
    3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
    4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
    5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
    6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
    7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
    8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
    9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli ruqyah.

    Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri dari :
    1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
    2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan
    3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
    4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
    5. Sunan Kudus, asal Palestina
    6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
    7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina
    8. Maulana ‘Aliyuddin, asal Palestina
    9. Syekh Subakir, asal Persia Iran.

    Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri dari:
    1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
    2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
    3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
    4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
    5. Sunan Kudus, asal Palestina
    6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
    7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
    8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
    9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

    Wali Songo Angkatan ke-4,1473 M, terdiri dari :
    1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
    2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
    3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
    4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
    5. Sunan Kudus, asal Palestina
    6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
    7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
    8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
    9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

    Wali Songo Angkatan ke-5,1478 M, terdiri dari :
    1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
    2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
    3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
    4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
    5. Sunan Kudus, asal Palestina
    6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran
    7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
    8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
    9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

    Wali Songo Angkatan ke-6,1479 M, terdiri dari :
    1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
    2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
    3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
    4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
    5. Sunan Kudus, asal Palestina
    6. Sunan Tembayat, asal Pandanarang
    7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
    8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
    9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

    Hubungan Kesultanan Nusantara Dengan Kerajaan Islam di Turki dan Arab
    Hubungan antara kerajaan Islam Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah juga dapat diketahui dari keterangan seorang sejarahwan, Bernard Lewis, yang mengungkapkan bahwa pada tahun 1563 Masehi pembesar kerajaan Aceh mengutus seseorang ke Istanbul guna meminta bantuan melawan Portugis. Dia berusaha meyakinkan Khilafah bahwa raja-raja di kawasan tersebut telah bersedia memeluk Islam jika Khalifah Utsmaniyah mau menolong mereka.

    Namun sayangnya pada saat itu Kekhalifahan Utsmaniyah sedang mengalami berbagai permasalahan genting yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria dan mangkatnya Sultan Sulaiman Agung. Setelah terhambat selama dua bulan akhirnya mereka membentuk sebuah armada perang yang terdiri dari 19 unit kapal perang dan beberapa kapal pengangkut persenjataan dan persediaan untuk dikirim ke Aceh.

    Hal yang disayangkan adalah sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Kapal yang tiba di Aceh hanya dua unit saja dan langsung digunakan untuk mengusir Portugis. Catatan Sejarah mengenai hal ini dapat ditemukan dalam berbagai arsip dokumen negara Turki dan buku-buku yang ditulis oleh sejarahwan dunia.

    Selain itu dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri juga disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer dari Khalifah Utsmaniyah berupa senjata disertai pengajar yang khusus dikirim untuk mengajarkan cara pemakaiannya.

    Kaitan antara kesultanan Banten dengan kerajaan di Timur Tengah juga dapat terlihat dari gelar-gelar kehormatan yang diberikan kepada para pembesar kerajaan Islam di Nusantara. Gelar tersebut di antaranya:

    – Kesultanan Banten
    Abdul Qadir dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu.

    – Kesultanan Mataram
    Pangeran Rangsang memperoleh gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami dari Syarif Mekah pada tahun 1641 Masehi.

    Pada tahun 1652 hubungan antara kesultanan Aceh dan Turki juga semakin erat dengan adanya pengiriman utusan Aceh ke Turki dalam upaya meminta bantuan meriam. Khalifah Utsmaniyah mengirim 500 orang pasukan Turki untuk mengawal pengiriman meriam dan amunisi.

    Selanjutnya pada tahun 1567, Sultan Salim II mengirim armada ke Sumatera. Melihat kedekatan antara kaum muslimin di Nusantara dengan Kekhalifahan Utsmaniyah, seorang pejabat pemerintahan kolonial Belanda, Snouck Hurgronje, mengatakan, “Di kota Mekah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk Muslim di Nusantara.”

    Menjelang abad modern pun hubungan tersebut masih terjalin baik, terbukti pada akhir abad 20 konsulat Turki di Jakarta pernah membagikan Al Quran atas nama Sultan Turki. Istanbul juga pernah mencetak tafsir Al Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili. Pada halaman depan tafsir al Quran tersebut tertulis “Dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam.” Pada saat itu yang disebut Sultan Turki adalah Khalifah yang merupakan pemimpin Khilafah Utsmaniyah berpusat di Turki.

    Snouck Hurgronje juga pernah mengatakan bahwa pada umumnya rakyat di Indonesia terutama mereka yang tinggal di pelosok daerah di seluruh tanah air, memandang Stambol (sebutan untuk Khalifah Utsmaniyah) masih sebagai raja bagi seluruh orang mukmin yang saat itu kekuasaannya agak berkurang karena adanya penguasaan orang kafir di Indonesia.

    Melihat fakta-fakta sejarah tersebut maka dapat disimpulkan bahwa memang Nusantara pada jaman dahulu adalah bagian dari khilafah baik saat kekuasaan Khilafah Abbasiyah Mesir maupun Khilafah Utsmaniyah Turki.

    Berdasarkan bentuk kekhalifahan saat itu, Syarif Mekah adalah seorang gubernur pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk daerah Hijaz. Karena itu penganugerahan gelar sultan kepada para pembesar kerajaan Islam di Nusantara lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam dan bukan gelar semata.

    Sejarah Masuknya Agama Islam Di Indonesia
    Sebelum kita mengenal beberapa teori tentang penyebaran Islam di Nusantara, perlu di perhatikan bahwa Politik Luar Negeri Negara Khilafah terdiri dari dua; Da’wah dan Jihad. Awalnya negeri yang ditargetkan akan diberi dakwah, ketika menerima maka tidak ada perang di sana. Namun, ketika menolak, maka akan terjadi Jihad dan Futuhat (Pembebasan). Dua hal ini adalah politik Luar Negeri, dimana di setiap perkembangan akan disampaikan kepada Khalifah.

    Itu pula yang terjadi di Indonesia. Jika penyebaran Islam di lakukan oleh pedagang semata, bukan Da’i atau utusan, maka apakah akan ada laporan kepada Khalifah? Lalu, apakah penyebaran lewat jalur perdagangan merupakan Politik Luar Negeri? Apakah penyebaran Islam dengan jalur perdagangan hanya propaganda untuk menutupi bahwa Nusantara pernah menjadi fokus dakwah Islam dan menjadi bagian dari Khilafah?

    Dari teori Islamisasi oleh Arab dan China, Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam Indonesia, mengaitkan dua teori Islamisasi tersebut. Islam datang ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Penyebarannya pun bukan dilakukan oleh para pedagang dari Persia atau India, melainkan dari Arab. Sumber versi ini banyak ditemukan dalam literatur-literatur China yang terkenal, seperti buku sejarah tentang China yang berjudul Chiu Thang Shu.

    Menurut buku ini, orang-orang Ta Shih, sebutan bagi orang-orang Arab, pernah mengadakan kunjungan diplomatik ke China pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah. 4 tahun kemudian, dinasti yang sama menerima delegasi dari Tan Mi Mo Ni, sebutan untuk Amirul Mukminin. Selanjutnya, buku itu menyebutkan, bahwa delegasi Tan Mi Mo Ni tersebut merupakan utusan yang dikirim oleh khalifah yang ketiga. Ini berarti bahwa Amirul Mukminin yang dimaksud adalah Khalifah Utsman bin Affan.

    Pada masa berikutnya, delegasi-delegasi muslim yang dikirim ke China semakin bertambah. Pada masa Khilafah Umayyah saja, terdapat sebanyak 17 delegasi yang datang ke China. Kemudian pada masa Dinasti Abbasiyah, ada sekitar 18 delegasi yang pernah dikirim ke China.

    Bahkan pada pertengahan abad ke-7 Masehi, sudah terdapat perkampungan-perkampungan muslim di daerah Kanton dan Kanfu. Sumber tentang versi ini juga dapat diperoleh dari catatan-catatan para peziarah Budha-China yang sedang berkunjung ke India. Mereka biasanya menumpang kapal orang-orang Arab yang kerap melakukan kunjungan ke China sejak abad ketujuh. Tentu saja, untuk sampai ke daerah tujuan, kapal-kapal itu melewati jalur pelayaran Nusantara.

    Beberapa catatan lain menyebutkan, delegasi-delegasi yang dikirim China itu sempat mengunjungi Zabaj atau Sribuza, sebutan lain dari Sriwijaya. Umumnya mereka mengenal kebudayaan Budha Sriwijaya yang sangat terkenal pada masa itu. Kunjungan ini dikisahkan oleh Ibnu Abd al-Rabbih, ia menyebutkan bahwa sejak tahun 100 hijriah atau 718 Masehi, sudah terjalin hubungan diplomatik yang cukup baik antara Raja Sriwijaya, Sri Indravarman dengan Khalifah Umar Ibnu Abdul Aziz.

    Lebih jauh, dalam literatur China itu disebutkan bahwa perjalanan para delegasi itu tidak hanya terbatas di Sumatera saja, tetapi sampai pula ke daerah-daerah di Pulau Jawa. Pada tahun 674-675 Masehi, orang-orang Ta Shi (Arab) yang dikirim ke China itu meneruskan perjalanan ke Pulau Jawa. Menurut sumber ini, mereka berkunjung untuk mengadakan pengamatan terhadap Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga, yang terkenal sangat adil itu.

    Pada periode berikutnya, proses Islamisasi di Jawa dilanjutkan oleh Wali Songo. Mereka adalah para muballig yang paling berjasa dalam mengislamkan masyarakat Jawa. Dalam Babad Tanah Djawi disebutkan, para Wali Songo itu masing-masing memiliki tugas untuk menyebarkan Islam ke seluruh pelosok Jawa melalui tiga wilayah penting. Wilayah pertama adalah Surabaya, Gresik, dan Lamongan di Jawa Timur.

    Wilayah kedua adalah, Demak, Kudus, dan Muria di Jawa Tengah. Dan wilayah ketiga adalah, Cirebon di Jawa Barat. Dalam berdakwah, para Wali Songo itu menggunakan jalur-jalur tradisi yang sudah dikenal oleh orang-orang Indonesia kuno. Yakni melekatkan nilai-nilai Islam pada praktik dan kebiasaan tradisi setempat. Dengan demikian, tampak bahwa ajaran Islam sangat luwes, mudah dan sanggup memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa saat itu.

    Selain berdakwah dengan tradisi, para Wali Songo itu juga mendirikan pesantren-pesantren, yang digunakan sebagai tempat untuk menelaah ajaran-ajaran Islam. Pesantren Ampel Denta dan Giri Kedanton, adalah dua lembaga pendidikan yang paling penting di masa itu. Bahkan dalam pesantren Giri di Gresik, Jawa Timur itu, Sunan Giri berhasil mendidik ribuan santri yang akhirnya dikirim ke beberapa daerah di Nusa Tenggara dan wilayah Indonesia Timur lainnya.

    Penjajah Belanda Menghapuskan Jejak Khilafah
    Pada masa penjajahan, Belanda berusaha menghapuskan penerapan syariah Islam oleh hampir seluruh kesultanan Islam di Indonesia. Salah satu langkah penting yang dilakukan Belanda adalah menyusupkan pemikiran dan politik sekuler melalui Snouck Hurgronye. Dia menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama.

    Dari pandangan Snouck tersebut penjajah Belanda kemudian berupaya melemahkan dan menghancurkan Islam dengan 3 cara.
    Pertama: memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Dihapuslah kesultanan Islam. Contohnya adalah Banten. Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan. Seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti dengan peraturan kolonial Belanda.

    Kedua: melalui kerjasama raja/sultan dengan penjajah Belanda. Hal ini tampak di Kerajaan Islam Demak. Pelaksanaan syariah Islam bergantung pada sikap sultannya. Di Kerajaan Mataram, misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak Kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda.

    Ketiga: dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah. Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasihat pemerintah dalam masalah pribumi). Kantor ini bertugas membuat ordonansi (UU) yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye.

    Dikeluarkanlah: Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882, yang dimaksudkan agar politik tidak mencampuri urusan agama (sekularisasi); Ordonansi Pendidikan, yang menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi; Ordonansi Guru tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru agama Islam memiliki izin; Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923, yang merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan sebagai sekolah liar.

    Demikianlah, syariat Islam mulai diganti oleh penjajah Belanda dengan hukum-hukum sekuler. Hukum-hukum sekuler ini terus berlangsung hingga sekarang. Maka tidak salah jika dikatakan bahwa hukum-hukum yang berlaku di negeri ini saat ini merupakan warisan dari penjajah, sesuatu yang justru seharusnya dienyahkan oleh kaum Muslim, sebagaimana mereka dulu berhasil mengenyahkan sang penjajah: Belanda.
    http://www.101dunia.com/2015/11/kini-terungkap-bahwa-walisongo-adalah-utusan-Khalifah-Utsmaniyah.html
    Sri Sultan HB X Ungkap Hubungan Khilafah Utsmaniyah dengan Tanah Jawa :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s