Motivasi dari Penjual Mie Ayam

Hari ini badan terasa kurang fit. Jadi saya memutuskan untuk mencari makan siang yang berkuah panas. Saya memutuskan untuk menuju Jl. Mangga, dan menuju penjual Mie Ayam Baso.

photo505473215463794646

photo505473215463794648

Sang Ibu berjualan dengan gerobaknya tepat di pinggir jalan , tidak jauh dari Kursus Musik Purwacaraka. Menurut Ibu penjual, suaminya juga berjualan hal yang sama, tidak jauh dari situ, di perempatan Jl. Ahmad Yani dan Jl. Riau, dekat dengan Toko Madu Perhutani.

Tiap hari ia dan suami harus bangun dini hari untuk menyiapkan segala keperluan, belanja bahan-bahan ke pasar, memasak dan lain-lain. Menurutnya, ia dan suami sudah merintis usaha ini sejak tahun 1992, dan terbilang cukup lancar.

Dan berkat usaha ini, ia dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga bangku kuliah, anak yang  paling besar mengambil akutansi sedangkan adiknya mengambil teknik industri, dengan biaya kuliah kurang lebih 4 juta per semester per anak.

Luar biasa ya perjuangan Ibu ini demi anak-anaknya. Dia pernah cerita kepada saya bahwa  “Kerja itu harus dibawa senang, jangan kemrusung (bersungut-sungut)

Sebuah pesan yang sangat berguna untuk saya ….

***
Mengenai Mie Ayam Baso-nya, menurut saya “mantab”. Jika tidak ingin makan Mie, kita juga dapat mengganti Mie dengan Nasi Tim.
photo505473215463794651

This entry was posted in Kuliner, Motivasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Motivasi dari Penjual Mie Ayam

  1. Pingback: Setengah Perjalanan – Pejuang 30 Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s