Rahimallāhu walidaik

Beberapa hari lalu, saya sempat menghadiri undangan pengajian, yang diadakan sebelum hari pernikahan sepupu saya dilangsungkan.  Setelah pengajian juga terdapat tausyiah.

Tausyiah dari Ustadz Miftah Fauzi Rakhmat cukup panjang tapi juga tidak terlalu lama, saya mencoba menuliskan beberapa hal yang saya ingat.

Bagaimana cara mengukur tingkat kesholehan seseorang ? Apa tanda-tanda manusia itu dapat dikatakan sholeh ?

Ustadz menekankan bahwa ada 3 hal terkait tersebut, Pertama, dapat dilihat dari seberapa sering kita berdoa ke orang tua kita. Mengapa hal ini penting, karena orang tua sudah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Kedua, dapat dilihat dari seberapa sering kita mendoakan orang-orang dimana rezeki mengalir melalui mereka.

Dan yang Ketiga, dapat dilihat dari seberapa sabarkah kita untuk tidak pernah berhenti berdoa seperti poin pertama dan kedua diatas, baik kepada yang dikenal maupun yang belum dikenal secara langsung.

***

Di akhir tausyiah, Ustadz juga bercerita bahwa di timur tengah, ada ucapan terimakasih yang khas kepada seseorang yang telah berbuat baik atau telah menolong, yaitu dengan berkata “Rahimallāhu walidaik” yang berarti Semoga Allah menyayangi kedua orang tuamu.

This entry was posted in Soul and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Rahimallāhu walidaik

  1. Pingback: Babak Kedua Hari ke 16 – Pejuang 30 Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s