Bekal Hidup dari Orang Tua

Tidak banyak, yang saya takuti di kehidupan ini, yang pertama tentu Sang Pencipta, yang berikutnya adalah orang tua. Kata takut disini bermakna sangat luas, dapat berupa penghormatan, penghambaan dan lain lain.

Untuk orang tua, semua tentu sepakat bahwa kita tidak akan bisa membalas kebaikan mereka, kita dilahirkan ke dunia ini saja sudah merupakan rizki tersendiri, belum termasuk jerih payah orang tua, yang sepanjang hidup mereka fokus membesarkan dan menjaga anak-anak mereka.

Saya percaya, bahwa pada dasarnya orang tua pasti sayang kepada anak-anaknya, untuk itu mereka sangat sering memberikan nasehat kepada kita.

Dari nasehat penting, hingga nasehat yang terkadang sederhana atau bukan hal yang baru bagi kita, namun bagi saya setiap nasehat orang tua, cepat atau lambat, pasti bermanfaat.

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. (QS. An-Nisa ayat 36)

***

Salah satu pesan Ibu yang selalu saya ingat adalah untuk selalu mengingat hari kelahiran keluargamu, berilah ucapan selamat dan doa bagi mereka serta kirimkanlah kado semampumu. Saya paham maksud Ibu, bahwa sebenarnya nasihat ini bukan mengenai keharusan memberikan kado, tapi mengenai keharusan untuk memperhatikan keluarga.

Memang tidak ada salahnya untuk minimal setahun sekali, mengingat hari kelahiran keluarga, dan kalaupun kita tidak bisa memberikan ucapan selamat secara langsung, kirimkan kado melalui pos serta ucapan selamat via telepon sangatlah cukup.

Sedangkan pesan Bapak yang selalu saya ingat adalah mengenai pentingnya menjaga wudhu, usahakan selalu menjaga wudhu sepanjang hari. Sebuah amalan yang sepertinya sederhana tapi gampang-gampang sulit dilakukan. Hingga sekarang saya selalu berusaha melakukan amalan menjaga wudhu ini.

***

Kedua pesan orang tua diatas, mungkin terdengar sederhana, namun sebenarnya maknanya sangat “dalam”, tak berbatas,  yang memaksa saya untuk terus belajar memahami dan berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saya mungkin tidak mampu meneladani Uwais Al Qarni, sahabat Rasulullah SAW yang sepanjang hidupnya berbakti  dan selalu memenuhi keinginan Ibu beliau.

Namun saya akan selalu berusaha menghormati dan menjalankan nasihat-nasihat Orang Tua. Berusaha membantu sekuat tenaga jikalau mereka memerlukan pertolongan. Serta, berusaha menjaga ucapan dan tingkah laku saya dihadapan mereka, jangan sampai saya menyakiti perasaan mereka.

Terimakasih dan doa kepada kedua Orang Tua, yang kebaikannya tidak akan cukup dibalas dengan apapun.

… Ya Allah, berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya atas didikan mereka kepadaku. Berilah mereka pahala yang besar atas kasih sayang yang mereka limpahkan atasku. Peliharalah mereka sebagaimana mereka memeliharaku di masa kecilku … (Penggalan doa Ali Zainal Abidin As-Sajjad untuk kedua orang tua)

This entry was posted in Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Bekal Hidup dari Orang Tua

  1. Pingback: 26 Hari yang Tak Berasa – Pejuang 30 Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s