Kisah Ontel Ungu

Yang selalu membuat saya kagum saat menelusuri pedesaan adalah melihat para petani mengangkut hasil panennya menggunakan sepeda ontel. Hasil panen yang diangkut seringkali sangat banyak.


Foto dari : https://yukahalamanpantai.wordpress.com


Foto dari: http://iwanbanaran.com

***

Alasan diatas merupakan salah satu hal, yang membuat saya sejak lama ingin mencoba mengendarai ontel.

Ingin beli tapi bingung, karena di rumah masih ada sepeda biru yang sudah saya gunakan sejak zaman kuliah, saya beli di Kosambi seharga 500 ribu, hingga sekarang saya masih tidak tahu apa mereknya.

***

Dan setelah menunggu lama, akhirnya saya punya Ontel. Tidak beli, namun diberi oleh kakak ipar saya.

ONTEL

Menurut kakak saya, ontel ini awalnya teronggok tidak terawat di sebuah lokasi pemancingan, dan itupun hanya “body”-nya saja, sudah tidak ada ban dll. Karena tertarik, kakak saya mencoba membeli ke pemilik ontel yang merupakan pemilik pemancingan.

Gayung bersambut, ontel dapat dibeli, namun tidak dengan uang, tapi sesuai keinginan penjual yaitu dibarter dengan besi tua.

***

Lalu kakak saya, merestorasi body ontel ini, dipasang ban, di cat ulang dan lain-lain. Setelah selesai restorasi, ontel tidak dipakai gowes, namun dipajang di sanggar milik kakak saya yaitu sanggar lukis beruang. Kakak saya memang seorang seniman yang juga hobi merestorasi, terutama berbagai kendaraan kuno.

Dan pada akhirnya, Ontel ini diberikan ke saya, dikirim menggunakan truk dari Banjarnegara. Alhamdulillah, senang sekali.

***

Pada awalnya, karena belum terbiasa, sangat kagok mengendarai Ontel ini, namun saat sudah melaju, saya langsung paham mengapa petani-petani di desa menggunakan ontel untuk mengangkut panen-panen mereka dalam jumlah banyak.

Meski rangka terbuat dari besi berat, tapi dilengkapi ban berdiameter lebar yang ramping, hal inilah yang membuat laju ontel cepat serta terasa ringan mengendarainya.

Tak terasa sudah hampir setahun saya mengendari ontel ungu ini. Paling sering saya gunakan saat menuju ke kantor.

Ada 2 keuntungan utama yang saya rasakan saat mulai rutin gowes ke kantor yaitu :

Pertama, kebugaran tubuh lebih terjaga. Badan yang awalnya kurang fit, menjadi lebih bugar usai bersepeda. Makan menjadi lahap, dan kita dipaksa untuk rutin minum air putih.

Jujur saja, terkadang muncul rasa malas berangkat ke kantor menggunakan sepeda, namun kalau dipikir-pikir, lebih tidak enak  kalau sampai sakit karena kurang olahraga. Jadi saya lebih memilih melakukan tindakan pencegahan dengan bersepeda ke kantor.

Kedua,  mengendarai sepeda ke kantor sangat efektif dan efisien, kita tidak perlu lagi menambah waktu khusus untuk berolahraga. Dengan bersepeda dari rumah ke kantor PP, maka kebutuhan olahraga harian terpenuhi. Dan tentu saja lebih hemat pengeluaran bahan bakar bensin.

***

Tips dari saya sebisa mungkin memperhatikan safety riding. Gunakan helm, pasang mata kucing, atau lampu, cek kondisi rem dan tetap waspada terhadap kendaraan bermotor.

Oh ya, jangan lupa selalu bawa jas hujan saat musim hujan seperti sekarang.

Saya sangat bersyukur atas pemberian ontel ini, sudah hampir setahun ontel ungu ini berkontribusi mengantar saya ke tempat kerja, dan menjaga kebugaran saya. Terimakasih Mas Adib, Mbak Titin🙂

This entry was posted in Sports, Tips, Travelling and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Kisah Ontel Ungu

  1. Pingback: Kisah Ontel Ungu – GOWES'er ANGGREK 47

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s