Perangkap Fallacy of Dramatic Instance

Dalam berpikir, sering kita terjebak pada fallacy of dramatic instance yang merupakan salah satu bentuk logical fallacies (kesalahan berpikir).

Fallacy of dramatic instance berawal dari kecenderungan orang untuk melakukan apa yang dikenal dengan over generalisation. Yaitu penggunaan satu atau dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum.

Misalnya  :

Robby & Makoto bekerja sebagai  pegawai negeri sipil. 

Robby & Makoto sering terlambat masuk kerja.

Jadi, semua pegawai negeri sipil itu tidak disiplin, karena sering terlambat masuk kerja.

***

Over generalisation terjadi dalam pemikiran kita saat memandang seseorang, sesuatu atau tempat. Padahal, orang itu selalu berubah, sehingga hal yang sama tidak bisa kita terapkan pada orang yang sama terus menerus dan selama-lamanya

Contoh :

Saat SMP, tahun 1995, saya sekelas dengan Pikachu yang selalu sakit-sakitan.

Jadi, Pikachu itu sampai sekarang, pasti selalu sakit-sakitan.

***

Turunan dari fallacy of dramatic instance ini ialah stereotipe yang berarti penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan.

Contoh :

Saat travelling ke Barcelona saya kecopetan. Saya dengar saya bukan yang pertama.

Jadi, hati-hati dengan Xavi Hernandes, orang Spanyol suka mencopet.

Contoh kasus ekstrim nyata lainnya, stereotipe akut jika tidak ditanggulangi dapat dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menimbulkan chaos/kekacauan seperti kerusuhan 1998, tragedi holocaust, lalu di Rwanda antara Suku Hutu dan Tutsi dan kasus-kasus lainnya.

***

Contoh terakhir yang masih hangat,

trump_

Berita lengkap bisa diklik disini >>>

Peristiwa-peristiwa kekerasan/teror yang terjadi di negara-negara Eropa akhir-akhir ini, para pelakunya diidentifikasi atau “mengaku” Muslim.

Apakah hal itu berarti semua muslim suka melakukan kekerasan/teror ???

***

Untuk terhindar fallacy of dramatic instance atau over generalisation, saya mempunyai beberapa pandangan, menurut saya sebagai berikut :

  1. Hati-hati dalam membuat pernyataan atau argumentasi.
  2. Harus selalu kritis saat menerima informasi, tetap sisakan ruang untuk selalu bertanya seperti : Apa betul ya ? Apa seperti itu ya ? Ada apa ya ? Coba nanti cari referensi pembandingnya dan seterusnya ?

Apa lagi ya ? jika ada tips lainnya silahkan ditambahkan …

Advertisements
This entry was posted in Buku, Soul and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Perangkap Fallacy of Dramatic Instance

  1. Pingback: Melawan Hoax | La Nostra Scrittura

  2. Pingback: Day 22 – 22 Desember – Catatan Fighter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s