Menulis itu Membaca dan Membaca itu Menulis

Saat kuliah dulu bersama teman-teman saya membuat buletin kampus bernama eezchamvoor (baca : es campur), dan sejak saat itu juga kegiatan menulis menjadi lebih sering, selain  tugas kuliah tentunya.

Untuk menulis konten buletin tersebut, kami berusaha menerapkan kaidah jurnalistik dasar seperti cover both side atau berimbang, kami berusaha membuat konten buletin semenarik mungkin seperti melakukan interview dosen favorit, mahasiswa berprestasi hingga observasi kehidupan kampus yang belum terekspos.

Saat itu kami tidak memikirkan keuntungan, malahan lebih sering tekor, namun banyak benefit yang kami peroleh dari aktifitas ini seperti buletin kami masuk menjadi salah satu kriteria penilaian akreditasi kampus saya, alhamdulillah dapat ikut berkontribusi untuk kampus.

Dapat melihat mahasiswa-mahasiswa yang sedang menunggu kelas sambil membaca buletin kami saja, hal tersebut sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami.

Benefit lainnya, berkat aktifitas mengelola buletin kampus, saya diterima sebagai karyawan di Radar Bogor, Jawa Pos Group yang membuat saya harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan.

***

Beberapa tahun kemudian saya harus berterimakasih kepada friendster, di medsos ini saya mulai aktif menulis secara online sampai akhirnya saya jatuh cinta pada platform wordpress hingga sekarang.

Dalam menulis saya hanya berusaha menerapkan menulis bebas atau freewriting, sedangkan untuk teknis-teknik menulis saya masih harus banyak belajar.

Satu hal yang saya percayai sejak dulu adalah bahwa menulis itu dapat “bermanfaat” untuk orang lain, jika “bermanfaat” semoga ada pahala bagi penulisnya. Hal inilah yang menjadi “bahan bakar” saya untuk terus menulis.

spoken words fly away, written words remain / verba volant, scripta manent

***

Di hari ke 30 dari  kegiatan menulis tanpa henti tiap hari selama 30 hari , saya semakin percaya bahwa amunisi utama untuk menulis adalah membaca. Kalau mengambil pernyataan pakar menulis Pak Hernowo, beliau mengatakan bahwa bagaimana bisa menulis buku best seller jika kita tidak pernah membaca buku best seller.

Jadi menulis adalah membaca, begitu juga sebaliknya bahwa membaca adalah menulis.

Ayo semangat, untuk terus membaca dan menulis, memberikan inspirasi, manfaat dan makna untuk para pembaca.

tulis saja, gitu saja kok repot he he he 🙂

Advertisements
This entry was posted in Motivasi and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Menulis itu Membaca dan Membaca itu Menulis

  1. Pingback: Day 30 – 30 Desember – Catatan Fighter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s