Aku adalah Pusat Dunia ?

Kondisi ini seringkali tiba-tiba muncul. Di saat bekerja, di saat berolahraga, minum kopi dan aktifitas lainnya.

Kondisi dimana muncul perasaan bahwa kita adalah pusat dunia atau pusat semesta.

Apa yang kita lihat hanya berasal dari mata kita sendiri, yang menghasilkan cara pandang kehidupan dimulai dan hanya dari “sudut pandang” kita.

Seolah-olah kita adalah “pusat” kehidupan di dunia ini.

Sering kita lupa bahwa seseorang di sekitar kita memiliki “sudut pandang” tersendiri, dan mungkin atau kebanyakan mereka juga merasa bahwa mereka adalah “pusat” kehidupan di dunia.

Apakah Anda menyadari kondisi ini ? Atau sering mengalami situasi merasa sebagai “pusat dunia” ?

***

Sifat “kita adalah pusat semesta ini”, biasanya dapat membawa kita untuk cepat menilai seseorang.

Menurut Pak Khairul, Pak Agger dan Pak Dimitri dalam buku Sepia.

Statistik menunjukkan bahwa di antara berbagai masalah, ternyata yang benar-benar merupakan masalah hanya 7 %,  sisanya sebesar 93 % adalah masalah yang diciptakan oleh “kecerdasan” manusia itu sendiri.

Bagaimana pikiran kita menilai sesuatu itu tidak baik, sesuatu itu tidak seharusnya begini atau begitu, seringkali teramat subyektif, dan oleh karena itu tidak valid. Keterbatasan fikiran manusia, membuat banyak simpulannya bersifat relatif.

Beberapa hal yang layak kita pertimbangkan sebelum menilai perbuatan orang lain sebagai baik atau buruk misalnya adalah :

  1. Apakah kita mengetahui konteks perbuatan orang itu ?
  2. Apakah kita mengetahui masalah – masalah yang sedang dihadapi orang itu ?
  3. Apakah kita mengetahui apa yang sebenarnya diharapkan orang itu dari perbuatannya ?
  4. Apakah kita mengetahui sistem pemikiran orang itu secara menyeluruh.

Bila kita tidak mampu menjawab dengan yakin keempat pertanyaan tersebut, mungkin memberikan ruang bagi setiap individu lain untuk berbuat sesuai dengan keinginan, pikiran, konteks dan masalah mereka sendiri adalah salah satu tanda tingginya kecerdasan spiritual.

Kebiasaan untuk selalu secara sentralistik menilai kejadian dan perbuatan orang lain dengan ukuran – ukuran subyektif kita akan menyebabkan banyak hal yang sebenarnya bukanlah masalah menjadi masalah, seperti halnya hasil survey di atas, bahwa dari semua masalah yang ada, yang benar – benar merupakan masalah hanyalah 7 %.

Advertisements
This entry was posted in Buku, Soul and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s